Selasa, 26 Juni 2012

Strategi Pembelajaran Afektif


Strategi pembelajaran Afektif                                                                    Bangun Wijaya
06404244021/Pend. Ekonomi
 
Strategi Pembelajaran Afektif bertujuan untuk pembentukan nilai dan sikap, sehingga istilah pengajaran tidak cocok diterapka, istilah pendidikan akan lebih cocok dalam bidang afektif. Strategi pembelajaran ini memang berbeda dengan strategi pembelajaran lainnya dikarenakan nilai dan sikap sulit untuk diukur dan itu berhubungan dengan kesadaran seseorang dari dalam. Penilaian dalam konsep afektif sulit untuk dipertanggung jawabkan karena membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus dan itu angat sulit untuk dilakukan, apalagi menilai perubahan sikap.
Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya terselubung dan tidak empiris. Nilai pada dasarnya adalh standar perilaku,ukuran yang menentukan atau kriteria yang disebut layak,dan standar ini akan mewarnai perilaku seseorang. Douglas Graham (Gulo, 2002) melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu
  1. Normativist (biasanya kepatuhan pada norma hukum) dibagi dalam tiga bentuk yaitu
    • Kepatuhan pada nilai atau norma itu sendiri
    • Kepatuhan pada proses tanpa mempedulikan norma itu sendiri
    • Kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkandari peraturan itu
  2. Integralist, kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan petimbangan yang rasional
  3. Fenomenalist, kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa-basi
  4. Hedonist, kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri
Jenis-jenis kepatuhan:
  1. Otoritarian, kepatuhan tanpa ikut-ikutan
  2. Conformist
    • Conformist directed,penyesuaian diri terhadap orang lain
    • Conformist hedonist,kepatuhan yang berorientasi pada “untung-rugi”
    • Conformist integral,kepatuhan yang menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan masyarakat
  3. Compulsive deviant, kepatuhan yang tidak konsistent
  4. Hedonik psikopatik, kepatuhan pada kekayaan tanpa memperhitungkan orang lain
  5. Supramoralist,kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap nilai-nilai moral
Pendidikan nilai bagi anak sangatlah penting pada era global ini karea akan muncul berbagai pilhan nilai yang mungkin dianggap baik sehingga nilai-nili yang ada dalammasyarakat akan luntur dan hilang. Nilai-nilai bagi seseorang tidaklah statis,setiap orang menganggap nilsiitu baik menurut pandangannya saat itu yang seharusnya bisa dibina dan diarahkan. Komitmen terhadap suatu nilai akan memengaruhi pembentukan sikap dan perilaku seseorang. Gulo (2005) menyimpulkan tentang nilai sebagai berikut :
  1. Nilai tidak bisa diajarkan tetapi diketahui dari penampilannya
  2. Pengembangan domain afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik
  3. Masalah nilai adalah masalah emosional karena itu dapat berubah,berkembang sehingga bisa dibina
  4. Perkembangn nilai atau moral tidak terjadi sekaligus, tetapi melaui tahap tertentu
Sikap adalah kecenderungan seesorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik.sikap merupakan suatu kemampuanm internal seseorang dalam mengambil tindakan dengan adanya kemungkinan atau alternatif. Penilaian dan sikap terhadap suau objek juga ditentukan oleh pemahaman (kognitf) da kemampuan bertindak (psikomotorik) terhadap suatu objek tersebut.
Pola Pembentukan Sikap
1.      Pola pembiasaan
Perubahan sikap dari seseorang bisa disebabkan oleh kebiasaan (conditoning), yang menjadi dasar penanaman sikap tertentu terhadap suatu objek. Dalam proses pembelajaran di sekaolah baik secara disadari ataupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu melalui proses pembiasaan. Belajar membentuk sikap melalui pembiasaan juga dilakukan oleh Skinner melaui torinya operant conditioning. Pembentukan sikap yang dilakukan Skinner menekankan pada proses peneguhan respons anak dengan memberikan penguatan.
2.      Modeling
Pembelajaran sikap seseorang juga dapat dilakukan melalui proses modeling (pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau mencontoh). Salah satu karakteristi anak didik yang sedang berkembang adalah keingnannya untuk meniru (imitasi). Hal yang ditiru merupakan perilaku yang diperagakan oleh orang yang diidolakannya. Proses ini biasanya disebut dengan Modeling. Permodelan biasanya dimulai dengan rasa kagum atau rasa hormat,akan tetapi dalamproses ini anak didik perlu untuk diberi pemahaman yang bertujuan agar sikap tertentu yang muncul benar-benar disadari oleh suatu keyakinan kebenaran sebagai suatu sistem nilai.
Model Pembelajaran Sikap
Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengemukakan beberapa model pembelajaran  afektif yang populer dan banyak digunakan yaitu sebagai berikut :
1.   Model Konsiderasi
Manusia seringkali bersifat  egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan,   dan sibuk dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Melaluipenggunaan model  konsiderasi (consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.
Langkah-langkah  pembelajaran  konsiderasi :
  1. menghadapkan  siswa pada  situasi  yang  mengandung  konsiderasi
  2. meminta  siswa  menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan,   kebutuhan   dan   kepentingan   orang   lain
  3. siswa   menuliskan responsnya  masing-masing
  4. siswa  menganalisis  respons  siswa  lain
  5. mengajak siswa melihat konsekuesi dari tiap tindakannya
  6. meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.
2.   Model Pembentukan Rasional
Dalam  kehidupannya,  orang  berpegang  pada  nilai-nilai  sebagai  standar bagi  segala  aktivitasnya.  Nilai-nilai  ini  ada  yang  tersembunyi,  dan  ada  pula yang  dapat  dinyatakan  secara  eksplisit.  Nilai  juga  bersifat  multidimensional, ada yang relatif dan ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational building  model)  bertujuan  mengembangkan  kematangan  pemikiran  tentang nilai-nilai.
Langkah-langkah  pembelajaran  rasional :
  1. menigidentifikasi situasi dimana ada  ketidakserasian atau  penyimpangan tindakan
  2. menghimpun informasi tambahan
  3. menganalisis situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atu ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat
  4. mencari alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya
  5. mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuen-ketentuan legal dalam masyarakat.
3.   Klarifikasi Nilai
Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung, disadari atau tidak. Klarifikasi nilai (value clarification model) merupakan pendekatan  mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau proses menilai (valuing process) dan membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam bidang kehidupan yang kaya nilai. Penggunaan model ini bertujuan, agar para siswa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki, memunculkan  dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki keterampilan proses menilai.
Langkah-langkah  pembelajaran  klasifikasi  nilai
  1. pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah  alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya
  2. mengharagai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya
  3. berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal lainnya.
4.   Pengembangan Moral Kognitif
Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif, yang yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan  kemampauan  mempertimbangkan  nilai  moral  secara kognitif.
Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif :
  1. menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai
  2. siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu
  3. siswa diminta mendiskusikan/menganalisis kebaikan dan kejelekannya
  4. siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik
  5. siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.
5.   Model Nondirektif
Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif.  Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa.
Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya. Langkah-langkah   pembelajaran   nondirekif :
  1. menciptakan   sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas
  2. pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya, guru  menerima dan memberikan  klarifikasi
  3. pengembangan pemahaman (insight), siswa mendiskusikan masalah, guru memberikan dorongan
  4. perencanaan dan penentuan keputusan, siswa merencanakan dan menentukan  keputusan, guru memberikan klarifikasi
  5. integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif.
Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif
Dalam pembelajran ini ada beberapa kesulitan yang biasanya dihadapi yaitu sebagai berikut:
  1. Selama proses pendidikan kurikulumyang berlaku cenderung untuk pengembangan aspek intelektualnya
  2. Sulitnya melakukan kontrol karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sikap anak didik
  3. Keberhasilan pembentukan sikap tidak dievaluasi dengan segera
  4. Pengaruh kemajuan teknologi,khususnya teknologi anformasi yang menyuguhkan berbagai acarayang berdampak pada pembentukan sikap anak didik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar