Selasa, 12 Juni 2012

DAMPAK NEGATIF GLOBALISASI TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP


DAMPAK NEGATIF GLOBALISASI TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP

                Setiap proses perubahan yang terjadi pasti memiliki dampak yang berbeda-beda pada tiap-tiap segi kehidupan baik itu dampak yang baik ataupun dampak yang buruk. Di sisi lain proses globalisasi sebagai proses yang dapat memajukan kesejahteraan manusia secar ekonomi. Akan tetapi di sisi yang lain proses industrialisasi dan ekploitasi sumberdaya alam juga memilki dampak yang negatif terhadap lingkungan hidup si sekitar manusia. Tingkat emisi karbon yang berlebihan dan pengrusakan habitat dan ekosistem alam menjadikan globalisasi sebagai proses kepunahan makhluk hidup di bumi.
Pandangan dari kelompok yang peduli terhadap lingkungan hidup  percaya bahwa dengan proses tersebut akan menghancurkan kehidupan di muka bumi, hal-hal kecil seperti pemanasan global, pengrusakan hutan, dan bencana alam yang sering terjadi akan membawa manusia ke titik kiamat. Apabila tidak ada tindakan yang cepat dan tegas, era globalisasi sendiri akan memusnahkan bumi. Tetapi beberapa kelompok juga menyangkal pernyataan tersebut, konsekuensi dari niat baik dan kerjasama tersebut memang memiliki permasalahan ekologi dan hal tersebut memang tdak bisa dipungkiri dan tidak bisa dihindari. Untuk selanjutnya akan dipaparkan beberapa dampak negative yang terjadi pada era globalisasi.

GLOBAL WARMING
Dalam memenuhi kebutuhan, manusia pasti akan mengambil dan mengolah sumber daya yang ada di alam. Dengan kata lain untuk mensejahterakan kehidupan tiap masyarakat tidak dapat lepas dari alam, sehingga sumber daya yang ada di alam baik yang bisa diperbaharui (renewable resources) dan yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources) akan terus diambil. Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dalam suatu negara juga bisa diukur dari banyaknya sumber daya yang diolah oleh negara tersebut. Semakin banyak sumber daya yang diolah oleh sutunegara semakin makmur masyarakat di negara tersebut, dan sebaliknya. Global warming bisa disebabkan oleh pengrusakan sumber daya alam oleh manusia, proses industrialisasi juga mengakibatkan polusi yang bisa merusak alam.
Pemanasan global menjelaskan kenyataan bahwa suhu bumi terus meningkat dalam tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Dengan meningkatnya suhu permukaan bumi, air dan atmosfer bumi secara terus menerus mengakibatkan perubahan di kebanyakan sistem alam seperti iklim dan lingkar kehidupan tumbuhan dan hewan dalam efek jangka panjang. Pemanasan global disebabkan oleh efek rumah kaca dari berbagai macam gas yang ada di atmosfer bumi, secara alamiah simar matahari mempengaruhi kondisi iklim dan cuaca di bumi. Panas sinar matahari yang menuju permukaan bumi sebagian diserap dan sebagian akan dipantulkan kembali oleh gas-gas tersebut, sehingga panas bumi akan terus terjaga.
Sejak Revolusi Industri emisi gas yang ada di bumi terus meningkat dalam batas yang tidak diperhitungkan, dalam laporan International Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2007 disebutkan bahwa pemanasan global mengakibatkan semakin banyaknya bencana alam seperti angin topan, banjir, kebakaran hutan, cuaca yang ekstrem, dan lain sebagainya. Tingkat suhu air terus meningkat, es-es kutub terus mencair, dan tingkat ketinggian air terus meningkat di sekitar kutub. Penduduk dunia yang tinggal di sekitar kutub sudah melihat secara kangsung bagaimana efek dari pemanasan global terhadap populasi yang hidup di kutub, sedangkan kutub merupakan salah satu bagian bumi yang mengontrol suhu bumi.
Pemanasan global memicu berbagai ketidakseimbangan dalam lingkungan hidup termasuk di dalamnya manusia, hewan, dan tumbuhan. Es kutub yang mencair menyebabkan iklim yang berubah-ubah dan tingkat ketinggian air terus meningkat, tingkat emisi karbon dan gas-gas lain melubangi lapisan ozon yang menyebabkan resiko kanker kulit semakin tnggi. Musim yang berubah-ubah menyebabkan siklus kehidupan hewan dan tanaman tidak sesuai, tingkat ketinggian air laut menutup sebagian besar mata air jernih di beberapa bagian dunia. 

TINGKAT PERTUMBUHAN PENYAKIT MENULAR SULIT DIKENDALIKAN
                Adanya proses globalisasi mendorong berbagai Negara untuk terus-menerus melakukan kerjasama internasional dan mengeksploitasi sumber daya secara besar-besaran. Produksi ikan dan hewan ternak terus meningkat dan lalu lintas dari sumber daya tersebut semakin cepat  dan terus berkembang. Proses tersebut mengakibatkan penyakit menular dari komoditas tersebut semakin cepat menyebar. Sebagai contoh penyakit sapi gila dan flu burung yang menjadi suatu kejadian yang fenomenal dan tidak bisa dipungkiri bahwa tingkat penularan penyakit tersebut sulit untuk  diketahui dan dikendalikan. Tingkat lalu lintas antar negara baik manusia maupun barang-barang komoditas bisa jadi merupakan salah satu penyebab penularan penyakit-penyakit tersebut terus meningkat.
                Dalam diskusi tentang kesehatan masyarakat, globalisasi dipaparkan sebagai sebuah rangkaian faktor-faktor yaitu :
1.       Faktor ekologi, seperti bendungan atau perubahan dalam kegiatan-kegiatan pertanian
2.       Industrialisasi dan yang berkaitan dengan perubahan demografi seperti pertumbuhan yang besar dari penduduk di wilayah padat penduduk dan frekuensi perpindahan dan kontak antar individu
3.       Perubahan teknologi yang sudah disebarluaskan atau didistribusikan ke seluruh dunia merupakan salah satu hal penting dalm konsep “globalisasi”
Contoh lain adalah penyakit HIV-AIDS yang pertama kali diketahui pada tahun 1981 ketika seorang pemuda gay di Amerika didiagnosa memiliki penurunan pada tingkat kekebalan tubuhnya. Berita tentang penyakit tersebut menyebar disebarluaskan oleh para ilmuwan dan pada tahun 1982 diketahui di beberapa negara di Eropa dan di Inggris, penyakit tersebut sudah menyerang tidak hanya kaum gay tetapi juga para pemakai obat-obatan. Dan pada tahun 1984 penyakit tersebut sudah menyebar sampai ke Afrika, dan pada akhir 80-an sudah menjangkiti penduduk Asia. Informasi tersebut bisa kita kaitkan dengan proses industrialisasi dan lalu lintas manusia memicu perkembangan dan pertumbuhan penyakit menular dalam era globalisasi.

SIKLUS KEHIDUPAN MAKHLUK HIDUP YANG BERUBAH-UBAH
                Telah kita ketahui bahwa pemanasan global merupakan akibat dari adanya proses globalisasi dalam kaitannya dengan ekploitasi sumber daya alam secara besar-besaran dan industialisasi. Dalam hal ini salah satu akibat dari adanya proses tersebut adalah berubahnya siklus kehidupan makhluk hidup seperti serangga. Ketika iklim panas serangga lebih aktif dalam proses reproduksi, sehingga pertumbuhan populasi serangga akan meledak. Serangga merupakan salah satu hewan yang membawa penyakit yang menyerang manusia, salah satunya yaitu nyamuk yang membawa malaria dan mampu untuk bermigrasi dengan jarak yang jauh. Studi internasional yang dilakukan oleh Swiss Re (sebuah perusahaan asuransi) dan Program Pengembangan PBB menemukan bahwa :
1.       Pemanasan dapat “mendukung” penyebaran penyakit
2.       Cuaca yang ekstrem bahkan menciptakan suasana yang kondusif bagi sumber penyakit
3.       Perubahan iklim dan penyakit menular mengancam kehidupan liar, bahan pangan, pertanian, hutan, dan kehidupan lautan yang menyediakan sumber daya utama dan merupakan bagian dari pendukung sistem kehidupan manusia
4.       Ketidakstabilan iklim dan persebaran penyakit tidak bagus untuk bisnis
5.       Dampak dari perubahan iklim dapat meningkat pesat dalam beberapa dekade
6.       Beberapa dampak dari pemanasan dan cuaca yang berubah-ubah dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat meluas
7.       Penduduk di pinggir pantai, kehidupan bawah laut, dan hutan-hutan memiliki tingkat resiko yang tinggi dalam bencana pemanasan dan penyakit, khususnya untuk jangka waktu yang pendek

KETERSEDIAAN AIR BERSIH YANG TERBATAS
                Hal tersebut berkaitan dengan kenaikan tingkat ketinggian air laut dan suhu air, penduduk sekitar pantai di beberapa negara kepulauan sulit untuk mencari sumber mata air bersih. Salah satu kasus yang sudah terjadi di Papua Nu Gini, penduduknya secara resmi direlokasikan karena naiknya air laut ke wilayah tempat tinggal mereka. Selain penyempitan daratan, mata air yang merupakan  penyedia air bersih sudah tertutup oleh air laut. Manusia tidak akan bertahan hidup tanpa adanya air bersih, penduduk tersebut menampung air hujan yang kemudian disimpan untuk persediaan ketika musim kemarau dating. Atap rumah dirancang sedemikian rupa sehingga bisa mengalirkan air hujan ke dalam tangki penyimpanan air. PBB memperhitungkan pada tahaun 2025 dua per tiga penduduk bumi akan hidup di wilayah yang mempunyai persediaan air yang tidak mencukupi bagi penduduknya.
PBB juga menyediakan data bahwa air tanah di beberapa negara dikonsumsi lebih cepat daripada tingkat proses air tanah tersebut, dan beberapa sungai mengalami penyusutan ketesiaan air. Afrika dan Asia merupakan wilayah yang banyak mengalami permasalahan dengan ketersediaan air bersih bagi penduduknya khususnya di daerah pedesaan. Selain itu, PBB juga menyebutkan bahwa 90 % dari limbah air dan 70% dari sampah tidak diolah secara baik. Beberapa wilayah bahkan mengimpor air bersih dari daerah yang lebih kaya air bersih yang kemudian disimpan dalam tangki penyimpanan ataupun bendungan.
KEPUNAHAN SPESIES-SPESIES DI MUKA BUMI
                Dalam jangka waktu yang lama permasalahan-permasalahan tersebut di atas akan menyebabkan kepunahan makhluk hidup di muka bumi. Persebaran penyakit yang cepat dan sulit dikendalikan, persediaan air yang terbatas, siklus kehidupan yang berubah-ubah, dan serangan serangga terhadap sumber daya vital makhluk hidup memicu kepunahan ekosistem dunia. Suhu bumi yang lebih tinggi akan memicu proses-proses tersebut berlangsung lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar